Sketsa Buram al Madinah

🔴💥 seri RUDUD 💥🔴
➡ SKETSA BURAM “Al-Madinah” 🌑

Oleh : Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Mukaddimah

BENARKAH “AL-MADINAH”
BERVISI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH??

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يُضلل فلا هادي له , وأشهد أن لا إله إلا الله

 

وحده لا شريك له , وأشهد أن محمداً عبده ورسوله , صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه؛ والذين اتبعوهم بإحسان إلى يوم الدين , وسلم تسليما أما بعد :

Jagalah ketulusan! Kedepankan keikhlasan!

Akhi fillah, keikhlasan mutlak digenggamkan. Keikhlasan akan menjadi penentu utama, apakah ibadah kita diterima oleh Allah ataukah ditolak. Keikhlasan harus ditempatkan pada urutan pertama dalam segala hal. Termasuk menulis dan membaca. Untuk menulis,keikhlasan menjadi syarat penting. Untuk apa menulis? Demi apa ia menulis? Bila tidak menulis,apa akibatnya? Atas dorongan apa ia menulis? Ini semua harus terjawab secara benar dan tepat. Jika tidak,rugi dan menyesal adalah ujung-ujungnya. Na’udzu billah min dzaalik

Anda sebagai pembaca,akhi fillah,pun dihadapkan pada cermin keikhlasan. Apakah serta merta menerima tulisan hanya karena sesuai dengan keinginan? Apakah langsung menolak dan membantah, karena sejak awal tidak suka dengan penulisnya? Ringkasnya, biar data dan fakta yang berbicara.

Sempat terhenti, namun akhirnya bangkit kembali.

Saya teringat dengan percakapan kecil antara al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Basyaar. Katanya,”Sungguh! Aku merasa berat untuk menyatakan ; si fulan dha’if, si fulan kadz-dzaab”.
al-Imam Ahmad lalu menegur,”Jika engkau diam dan aku pun diam, kapankah si jahil akan mampu menilai yang shahih dan yang saqiim?”

Ajaran Salaf inilah yang kemudian memacu,membangkitkan dan menggerakkan semangat saya untuk menyusun tulisan ringkas ini. Benarlah al-Imam Ahmad! Jika saya diam, bagaimana mungkin orang-orang akan mengetahui hakekat dari Sketsa Buram Al-Madinah.

Al-Madinah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sebuah yayasan yang berada di wilayah Solo. Yayasan Al-Madinah mengelola beberapa bidang, di antaranya lembaga pendidikan yang telah membuka TK, SDIP, SMPIT, MA, dan lain-lain.

Tulisan ini berisi materi-materi yang hanya dapat dipahami oleh seorang Salafy. Pembahasannya tentunya akan mudah dimengerti oleh mereka yang benar-benar menjadikan manhaj Salaf sebagai napas kehidupan dan ruh semangat beribadahnya. Artinya? Anda yang baru mengenal manhaj Salaf, Anda yang belum menjadikan manhaj Salaf sebagai ruh semangat, Anda yang pernah mengenal manhaj Salaf namun telah lama meninggalkannya, dan Anda yang berpura-pura dalam manhaj Salaf, pasti Anda akan mempertanyakan kualitas tulisan ini. Namun tidak mengapa. Toh,tulisan ini seutuhnya ditujukan kepada Salafiyin sebagai bentuk nasehat sekaligus peringatan agar mereka tidak terjatuh dalam penyimpangan manhaj, sebagaimana yang telah dilakukan pihak Al-Madinah.

Energi terbesar dan tenaga terkuat yang mendorong saya untuk menulis catatan-catatan sederhana ini adalah rasa ghirah ; cemburu terhadap manhaj Salaf yang telah ditikam dan dihinakan oleh pihak Al-Madinah. Al-Madinah mengaku dalam visi dan misi mereka, ingin memperjuangkan pemahaman Salafus Shalih, sementara kenyataan tidak seperti yang di-akukan. Jauh panggang dari api. Tidak tepat dan tidak sesuai keinginan.

Bagaimanakah dengan visi misi Al-Madinah? Silahkan Anda membaca dan memperhatikan visi misi pendidikan Al-Madinah dari website milik mereka sendiri.

Gambar 1 : VISI & MISI SDIP AL MADINAH NOGOSARI : “Terwujudnya Pendidikan yang Islami, dengan Pemahaman Salafush Shalih, Berdaya Saing Tinggi dan Berakar di Masyarakat”

Gambar 2 : VISI & MISI SDIP AL MADINAH CEPOGO : “Terwujudnya Pendidikan yang Islami, dengan Pemahaman Salafush Shalih, Berdaya Saing Tinggi dan Berakar di Masyarakat”

Gambar 3 : VISI & MISI SDIP AL MADINAH NOGOSARI : “Terwujudnya Pendidikan yang Islami, dengan Pemahaman Salafush Shalih, Berdaya Saing Tinggi dan Berakar di Masyarakat”

Inilah visi dan misi pendidikan Al-Madinah!!! Benarkah Al-Madinah menjalankan visi dan misi mereka? Benarkah Al Madinah menerapkan pemahaman Salafus Shalih dalam pola pendidikannya? Secara lebih detail, jawabannya bisa Anda temukan melalui lembar demi lembar tulisan ini.

Allahumma, inilah bentuk bara’ saya dari praktek-praktek penyimpangan manhaj yang dilakukan oleh pihak Al Madinah. Allahumma, inilah bentuk wala’ saya kepada manhaj Salaf.
Allahumma,inilah hujjah bahwa kami ketika bertanya kepada ulama dan masyayikh, memanglah berdasarkan bukti dan fakta. Bukan dengan unsur bohong dan dusta seperti yang mereka tuduhkan.Bukan pula karena unsur sentimen pribadi. Semoga Engkau memberikan ridha.

JUJURKAH “AL-MADINAH”?

Saya bertanya kepada Anda, apakah sikap tidak jujur merupakan ajaran Salafus Shalih? Pertanyaan semacam ini, sebenarnya, tidak layak untuk diangkat. Sebab, siapapun mengerti bahwa Salafus Shalih selalu membimbing untuk bersikap jujur dan ksatria. Hanya saja, pertanyaan ini harus diajukan untuk

MENEGASKAN BAHWA PIHAK AL-MADINAH SANGATLAH JAUH DARI PEMAHAMAN SALAF KARENA SIKAP TIDAK JUJUR YANG JELAS TERLIHAT PADA MEREKA.

Sering dan selalu, Al Madinah mengklaim telah mempunyai beberapa fatwa ulama yang melegalkan sistem pendidikan mereka secara syari’at. Benarkah demikian? Sebenarnya mudah saja untuk menjawab pertanyaan ini.

Tahun berapakah mereka mendirikan lembaga pendidikan formal dan tahun berapakah fatwa-fatwa ulama yang diklaim itu dikeluarkan?

Jawabannya pasti. SEBELUM ada fatwa-fatwa tersebut, Al-Madinah telah mendirikan dan mengelola sistem pendidikan formal.

Apakah ini bisa dikatakan sikap jujur
Seperti inikah manhaj Salafy, berbuat sebelum bertanya
Apalagi klaim fatwa ulama yang “membenarkan” sistem mereka, ternyata NIHIL. Tidak ada
Jika benar-benar ada, mana buktinya? Sekalipun dikatakan ada, nyatanya hanya BOHONG saja.Termasuk klaim Al-Madinah telah memperoleh bimbingan dari asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri dan asy-Syaikh Al-Bukhari. BENARKAH DEMIKIAN

I. Inilah Jalsah di Hadapan asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari
Demi Allah! Ustadz Jauhari dan Ustadz Muhammad Na’im, –dahulunya- sangat saya hormati. Setelah Ishlah di hadapan asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i dan mereka melanggar poin-poin kesepakatan, saya masih terus ber-husnudzaan kepada mereka berdua. Namun, sampai pada akhirnya? Sehari sebelum Jalsah di hadapan asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari (Daurah Masyayikh Yogyakarta 1430 H / 2009 M), Al-Ustadz Ahmad Khadim sempat berujar,”Hati-hati! Nampaknya pihak Al-Madinah sedang merencanakan sesuatu”. Al-Ustadz Ahmad Khadim lalu menceritakan tentang Pak Khalil Klaten, saat Ustadz Ahmad singgah di percetakan milik pak Khalil. Terlihat, aktivitas yang cukup tinggi dalam proses cetak beberapa buku. Milik siapa? Untuk apa? Pak Khalil menyebutnya milik Yayasan Al-Madinah, dipesan untuk selesai sebelum Daurah Masyayikh Yogyakarta dimulai.

ADA APA

Demi Allah! Kembali saya ulang ; al-Ustadz Jauhari dan Ustadz Muhammad Na’im, –dahulunya – sangat saya hormati. Namun, itu semua berubah saat kami Jalsah di hadapan asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari.
Sejak detik itu sampai saat ini, saya meyakini bahwa Ustadz Jauhari dan Ustadz Muhammad Naim, layak diberi sebutan ; kadz-dzaab (pembohong!) Mereka berdua telah berbuat keji. Mereka berdua melakukan kebohongan. Ustadz Jauhari dan Ustadz Muhammad Na’im menempuh cara memasukkan bukti di atas bukti. Bagaimana itu?
Saya bersama Al-Ustadz Idral Harits,telah menyiapkan beberapa bukti penyimpangan yang terjadi di Al-Madinah. Beberapa buku pelajaran dan Lembar Kerja Siswa terbitan umum yang dipegang siswa kami ajukan kepada asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari.

Bukti-bukti yang menegaskan bahwa
> ajaran demokrasi,
> toleransi antar umat beragama,
> cerita-cerita rakyat yang berisi kesyirikan, khurafat, atau takhayyul, dan beberapa penyimpangan lainnya,
benar-benar dipelajari oleh siswa Al Madinah.
Masya Allah!

Ringan, mudah, dan bernada mengejek, bukti-bukti itu dinyatakan oleh Ustadz Jauhari TIDAK LAGI BERLAKU (!!!). Kenapa? “Kami sudah mengubahnya, wahai Syaikh. Kami sudah mampu menerbitkan buku-buku pelajaran sendiri.” Itulah keterangan yang diberikan oleh Ustadz Jauhari kepada asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari, sambil menyodorkan beberapa buku pelajaran terbitan mereka sendiri.

Tidak tahu malu. Tidak tahu diri. Berikutnya?
Langsung saja asy-Syaikh Al-Bukhari mengatakan,”Kalau begitu, kenapa kalian tidak serahkan kepada Akh Mukhtar? Supaya ia mengetahuinya”. Sambil memegang pensil atau bolpoint, Ustadz Muhammad Na’im menjawab,”Hm anu Syaikh, masih ada yang perlu dikoreksi lagi”
Astaghfirullah

Sejak kapan buku-buku terbitan umum itu diganti?
Benarkah diganti?
Sejak kapan mereka menerbitkan sendiri buku-buku pelajarannya?
Sejak beberapa tahun yang lalu, atau beberapa hari sebelum Jalsah?
Sudahkah diserahkan dan diajarkan kepada siswa? Kenapa harus menyatakan,”Hm anu Syaikh, masih ada yang perlu dikoreksi lagi” ??!

Lihat! Betapa licik, curang, dan culasnya mereka!

Bukti-bukti otentik, valid, dan akurat bahwa selama sekian tahun, buku-buku pelajaran dan lembar kerja siswa yang dipegang dan dibawa pulang oleh siswa-siswa Al-Madinah merupakan cetakan penerbitan umum, menjadi tidak berarti di hadapan asy-Syaikh Al-Bukhari dengan alasan ; “Kami sudah mengubahnya,wahai Syaikh. Kami sudah mampu menerbitkan buku-buku pelajaran sendiri”

Padahal bukti-bukti tersebut, adalah yang diajarkan pada sistem pembelajaran tahun itu.
Bahkan, buku-buku terbitan umum masih terus digunakan oleh pihak Al-Madinah pada TAHUN-TAHUN BERIKUTNYA, walaupun di hadapan asy-Syaikh Al-Bukhari mereka menyatakan telah diubah !!!
Allahul musta’aan.

Inilah beberapa bukti bila Al-Madinah tidak mampu menyusun buku pelajaran sendiri. Beberapa contoh di bawah ini adalah sampel lembar kerja siswa pada tahun ajaran 2012/2013. Tiga tahun setelah “kebohongan” mereka di hadapan asy-Syaikh Al-Bukhari pada tahun 2009.

Gambar 1 : LKS Fisika, untuk SMP/MTs

Gambar 2 : Buku Ajar Bahasa Indonesia, untuk SD/MI kelas 6

Gambar 3 : LKS Ilmu Pengetahuan Alam, untuk SD/MI kelas 5

Inikah Salafy? Seperti beginikah Ahlus Sunnah mengajarkan? Menyerahkan lembar-lembar kerja untuk dipegang,digarap dan dibawa pulang oleh siswa-siswanya? Padahal lembar-lembar kerja tersebut bukanlah terbitan Salafiyin

Apakah Ahlus Sunnah memberikan kepercayaan materi pembelajaran kepada EKSIS, SMART, OPTIMIS, dan PAKAR? Siapakah para penerbit itu? Orang-orang yang tidak mengenal agama dengan pemahaman Salaf. Lantas,jujurkah Al Madinah bila menjadikan pemahaman Salaf sebagai visi dan misinya?

Salah satu momen dalam Jalsah di hadapan asy-Syaikh Al-Bukhari yang akan sulit saya lupakan adalah ketika mereka menyodorkan fatwa asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri tentang pendirian sekolah di Perawang, Riau. Ustadz Jauhari beralasan bahwa mereka mengelola pendidikan dengan sistem yang berjalan di Al Madinah, juga berdasarkan fatwa asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri tersebut.

Apakah asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari menerima alasan itu
Tidak

Saya menjelaskan,”Wahai Syaikh, fatwa asy-Syaikh Ubaid ini terkait dengan sekolah di Sumatra, sementara mereka-mereka ini berada di Jawa”.

Apa yang terjadi?

Asy-Syaikh Al-Bukhari marah. Permintaan Ustadz Jauhari agar asy-Syaikh Al-Bukhari membaca dan membawa naskah fatwa Syaikh Ubaid, ditolak. Bahkan, asy-Syaikh Al-Bukhari langsung mengembalikan kepada mereka.
Kepada mereka, asy-Syaikh mengingatkan untuk tidak asal menerapkan fatwa ulama jika keadaan dan lokasinya berbeda. Karena tiap-tiap kasus ada jawaban tersendiri.

Pertanyaannya adalah apakah sama keadaan dan lokasi Al-Madinah dengan Perawang? Jelas berbeda! Dalam teks pertanyaan, ikhwan Perawang menerangkan prosedur rumit untuk mendirikan pesantren. Ada beberapa syarat yang tidak mampu dipenuhi seperti luas tanah, fasilitas gedung, dan bangunan masjid.

Inilah salah satu lembar teks pertanyaan tersebut!
Gambar 4 : Halaman pertama Fatwa asy-Syaikh ‘Ubaid untuk Perawang

Jelas bukan? Misalnya syarat memiliki bangunan masjid. Penanya telah menyatakan tidak memungkinkan karena telah ada dua masjid di sekitarnya dalam jarak yang sangat dekat.Ini satu contoh yang menerangkan bahwa kondisi Perawang sangat berbeda dengan kondisi Al-Madinah.

Jujurkah Al-Madinah jika menggunakan fatwa asy-Syaikh Ubaid untuk membenarkan program mereka?
Lagipula, kapan mereka mendirikan sekolah Al-Madinah dan kapan fatwa asy-Syaikh Ubaid itu dikeluarkan, sehingga dijadikan alasan? Sebelum fatwa asy-Syaikh Ubaid tersebut, Al-Madinah telah mendirikan dan mengelola pendidikan di bawah naungan Diknas!

Jika memang fatwa asy-Syaikh Ubaid diterima oleh asy-Syaikh Al Bukhari untuk diberlakukan di Al-Madinah, kenapa beliau meminta kita semua untuk menyusun pertanyaan lalu dibawa ke Lajnah Daimah?
Harusnya mereka masih ingat suara meninggi dari asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari yang menegur keras,”KENAPA KALIAN TIDAK BERTANYA KEPADA ULAMA SEBELUMNYA?!!” Iya, kenapa mereka tidak bertanya kepada ulama terlebih dahulu sebelum mendirikan sistem pendidikan semacam di Al-Madinah?

Kenyataannya? Bukannya berhenti atau menyusun pertanyaan untuk dibawa ke Lajnah Daimah, mereka malah semakin asyik dengan mendirikan program-program lanjutan, termasuk Madrasah Aliyah. Bahkan, mereka masih beralasan dengan fatwa asy-Syaikh Ubaid yang ditujukan untuk Perawang, bukan untuk Al-Madinah. Na’udzu billah minal khudz-laan

Beberapa kisah di atas,bisa saja didustakan. Barangkali tidak semua orang langsung percaya. Mungkin saya akan dianggap berbohong,tidak ingat kejadian sebenarnya, kurang memahami ucapan asy-Syaikh Al-Bukhari, sudah lupa dengan urutan peristiwa atau penilaian-penilaian lainnya.

Akan tetapi, melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak pembaca untuk melihat,menyaksikan dan merasakan secara langsung, bukti-bukti akurat dan valid yang sulit terbantahkan. Boleh saja saya dianggap berbohong, akan tetapi bagaimana mungkin akan menganggap bohong bukti-bukti berikut ini?

Semoga keikhlasan senantiasa menjadi landasan berpijak.

NB : Bagi Anda yang hendak bergabung bersama saya untuk menyingkap sisi-sisi gelap Al Madinah,silahkan kirimkan email via :akhisalafy1433@gmail.com .Barangkali Anda siap memberikan kesaksian,menambah bukti,menguatkan argumen atau saran. Baarakallahu fiikum.
WhatsApp Manhajul Anbiya

✅ Sumber Bacaan: http://www.manhajul-anbiya.net/seri-sketsa-buram-al-madinah/